Para ahli melakukan penelitiannya pada ribuan pasien jantung yang
sering melampiaskan kemarahan sepanjang satu tahun. Mereka dengan
kemarahan ringan berisiko terkena serangan jantung dua kali lipat.
Sementara kemarahan intens berisiko hingga empat kali lipat.
Ditulis dalam Reuters, semakin besar kemarahan, termasuk
melempar benda dan mengancam orang lain, risiko tersebut semakin tinggi.
Para peneliti menemukan bahwa setiap kenaikan intensitas kemarahan,
kemungkinan serangan jantung akan mengikuti setiap dua jam.
Risiko itu 1,7 kali lipat pada kemarahan yang ditunjukkan dengan
suara, 2,3 kali lipat pada kemarahan dengan ciri tubuh tegang,
mengepalkan tangan, dan gigi gemeretak, dan 4,5 kali lipat pada
kemaranan yang menyebabkan lepas kontrol, menyakiti diri sendiri ataupun
orang lain.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh saat kita marah hingga
memicu serangan jantung? "Ketika emosi tak terkendali, tubuh melepaskan
respon kimia epinefrin dan norepinefrin," papar peneliti Elizabeth
Mostofsky yang juga mahasiswa postdoctoral dari Cardiovascular
Epidemiology Research Unit, Harvard Medical School, Boston.
Kedua hormon tersebut dapat meningkatkan tekanan darah, denyut
nadi, penyempitan pembuluh darah, membuat trombosit darah mengental.
Kondisi ini yang meningkatkan risiko jantung.
Temuan ini berbalik dengan mitos bahwa melepas kemarahan dapat
mengurangi stres tubuh maupun psikologi. Kemarahan hanya akan
menimbulkan korosi kesehatan seperti risiko jantung dan masalah pembuluh
darah.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !